Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tangkal Gejala Impulsive Buying

Foto oleh Sam Lion dari Pexels
Teman ngajak nongkrong ke kafe baru, berangkat!

Mampir ke mall niatnya window shopping buat refreshing, eh shopping beneran!

E-commerce langganan ngadain sale tanggal kembar, langsung masukin keranjang!

Hayo ngaku, kamu pernah mengalami hal-hal seperti di atas? Nah, ternyata beberapa perilaku tersebut biasa disebut impulsive buying.

Ini adalah sebuah keputusan pembelian secara tiba-tiba atau tidak terencana, baik itu pembelian produk atau jasa.

Dalam melakukan pembelian, mereka lebih sering menggunakan perasaan dan emosi daripada logika. Perilaku impulsive buying bisa mengganggu keuanganmu.

Jika tidak ingin terjebak dalam overspending dan sering belanja hal-hal yang tidak penting, maka kamu harus mengetahui tips mengatasi impulsive buying. Bagaimana tipsnya?

1. Membuat alokasi keuangan

Kamu harus melakukan alokasi keuangan untuk pengeluaran-pengeluaran yang penting dan perlu segera dibayarkan, seperti tagihan air, listrik, telepon, cicilan kredit, atau uang sekolah anak.

Setelah kebutuhan utama telah terpenuhi, barulah alokasikan untuk kebutuhan lainnya.

Membuat alokasi keuangan sangat penting agar uang kamu tak tergerus untuk hal-hal tak penting. Pengeluaran juga jadi lebih jelas karena mengetahui ke mana saja uangmu pergi.

2. Pikirkan selalu hal terburuk yang akan terjadi

Bukannya mengajak kamu untuk selalu berpikiran negatif, namun hal ini perlu dilakukan agar kamu bisa berjaga-jaga dan membiasakan diri sebelum hal terburuk tersebut benar-benar terjadi.

Dengan berpikir hal terburuk yang bisa jadi kenyataan di kemudian hari, maka kamu akan berusaha tidak membuang-buang uang dengan melakukan impulsive buying.

3. Taruh uang di tempat yang susah dijangkau

Dengan kemudahan akses teknologi, memang dapat memicu kita untuk khilaf dalam pengeluaran yang membuatmu kerap melakukan impulsive buying.

Untuk itu, menjadi ‘orang kuno’ sejenak juga tidak masalah, yaitu memiliki rekening yang tidak terhubung dengan aplikasi banking dan e-wallet agar kamu susah untuk mengakses uang tersebut.

4. Hindari mengikuti akun online shop

Terkadang mengikuti akun online shop di media sosial bisa menjadi racun dalam berbelanja.

Karena saat kamu membuka media sosial, akun tersebut bisa menarik minat kamu untuk membeli, padahal belum butuh-butuh banget. Bukannya makin terkontrol, kamu malah jadi boros.

5. Jangan berbelanja kala sedang stres

Seseorang melakukan impulsive buying karena adanya suatu dorongan yang memengaruhi tindakannya. Seperti promosi dan diskon menarik, serta godaan setelah melihat teman atau kerabat yang membelinya.

Nah, jika emosimu sedang kurang stabil atau mengalami stres, hindari untuk bermain di e-commerce atau ke pusat perbelanjaan.

Karena di saat stres dan sedang ada beban pikiran, kamu bisa lebih mudah terpancing untuk membeli sesuatu. Jalan-jalan ke mall bukannya healing, malah bikin dompet pening.

6. Ingat kembali tujuan keuanganmu

Jika perilaku impulsive buying terus menghantuimu, ingat kembali tujuan keuanganmu. Apakah ada target-target khusus yang perlu dituju.

Kamu perlu benar-benar membatasi pengeluaran yang kurang penting, lebih baik ditabung saja. Karena dengan mengingat tujuan keuangan akan memengaruhi perilaku pembelian kamu.

7. Pertimbangkan fungsinya

Sebelum membeli barang, pertimbangkan kembali fungsi barang tersebut. Apakah kamu membelinya karena memang butuh, atau hanya sekadar ingin memilikinya saja.

Selain itu, cek lagi barang-barang yang ada di rumah, apakah ada barang sejenis dengan fungsi yang serupa. Dengan membiasakan hal ini, lambat laun perilaku impulsive buying akan berkurang.

Itulah beberapa tips mengatasi impulsive buying yang dapat kamu lakukan. Jika terus dibiasakan, perilaku impulsive buying sangat tidak baik untuk kondisi keuanganmu.

Oleh karena itu, kamu perlu menyadari dan memiliki niat untuk menguranginya.

Post a Comment for "Tangkal Gejala Impulsive Buying"